This is featured post 1 title
Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.
This is featured post 2 title
Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.
This is featured post 3 title
Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.
Tampilkan postingan dengan label Dunia Kita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dunia Kita. Tampilkan semua postingan
Rabu, 10 Oktober 2012
10 Alasan Anggota DPR Tidur Saat Sidang
1.
Anggota DPR selalu menghargai nasehat orangtua. Kata orang tua tidur
siang itu penting dan sehat, supaya terhindar dari penyakit berbahaya
dan awet muda.
2. Tidur tidak tidur, mereka dibayar. Jadi, lebih baik tidur
3.
Pasti akan ngantuk mendengar pembicaraan berbelit, tidak berisi, penuh
daya khayal, munafik, berliku, kaku, tak ada tujuan pasti arahnya,
4.
Kalau ingin menjatuhkan musuh besarnya seperti seperti Sri Mulyani
anggota DPR pasti bersemangat dan pantang menyerah. Dijamin 7 hari 7
malam melek terus karena demi memperjuangkan kepentingan dirinya dan
partainya,
5.
Tidak semua anggota DPR tidur. Mereka hanya tidur bila bicara soal
rakyat. Tapi bila sudah bicara tentang duit, gaji, tunjangan, posisi
jabatan, proyek, matanya melek smua hingga dinihari.
6.
Mereka tidak tidur. Mereka sedang merenung dan bermimpi bagaimana agar
rakyatnya dan dirinya tambah kaya, setidaknya balik modal, k
7.
Karena yang dibahas dalam sidang tidarena gajinya banyak disetor ke kas
partai, bayar cicilan vila dan mobil mewah, dan konstituen! Pada saat
yang sama gerak mereka tak bebas lagi setelah ada KPK.ak menyangkut
kepentingan diri sendiri dan partainya. Seandainya menyangkut individu
dan partai, pasti diskusi dan interupsi tak pernah putus.
8. Ruang sidang sangat nyaman tempatnya dingin harum dan kursinya nyaman sekali. Makanya kalo sudah duduk lupa berdiri.
9.
Mereka memikirkan nasib bangsa ini tanpa henti. Jadi kalo pas sidang
mereka tidur kelelahan, biar masyarakat bisa melihat betapa “capek”
mengurus bangsa ini.
10.
DPR selalu menjujung tinggi hukum dan undang-undang dalam setiap
mengemukakan pendapat. Dalam aturan tata tertib persidangan, hanya
dilarang mengganggu jalannya sidang. Sehingga, tidur saat sidang tidak
melanggar aturan dan undang-undang.Minggu, 26 Februari 2012
Kapolrestabes Bandung: Masa Polisi Enggak Boleh Ganteng ?? + foto foto si POLTENG " Bripda Saeful Bahri "
Kapolrestabes Bandung Kombes Pol Abdul Rakhman Baso turut berkomentar perihal sosok Bripda Saeful Bahri yang menjadi perbincangan heboh di dunia maya setelah sebuah fotonya muncul di salah satu akun Twitter. Pria kelahiran Subang, Jawa Barat, itu dijuluki Polteng alias Polisi Ganteng.
"Saya hanya positif thinking. Masa Polisi enggak boleh ganteng," cetus Abdul saat ditemui di Mapolrestabes Bandung, Selasa (21/2/2012).
Menurut Abdul, institusi Polri yang saban hari berkecimpung dalam pelayanan publik mengharuskan personelnya berpenampilan rapi dan bersih. Juga santun serta ramah.
Soal banyaknya orang terutama 'warga' Twitter yang menyanjung anak buahnya tersebut berparas ganteng, Abdul menyambut baik respon tersebut.
"Performance polisi yang rapi serta baik itu akan menjadi idola dan enggak jadi angker bagi masyarakat," singkat Abdul.

Beberapa hari belakangan ini, jagad maya khususnya di microblogging twitter ramai dengan twit seputar polteng alias polisi ganteng. Kehebohan itu bermula dari upload sebuah foto saja.
Adalah akun @ArdyWu yang menjadi pemicu kehebohan itu. Ia meng-upload sebuah foto candid seorang polisi berwajah ganteng disertai tulisan 'siapa yang mau ditangkap sama polisi ini'.
Lalu kemudian saling me-retweet disertai komentar seru pun makin membuat foto polisi ganteng itu makin meluas. Apalagi, penyanyi Sherina yang memiliki followers hampir 3 juta akun itu ikut retweet dengan komentar 'tilang saya sekarang' katanya dengan huruf kapital.
(bbn/ern)
Terlihat Gagah, Bahri Bercita-cita Jadi Polisi Sejak Kecil
Bripda Saeful Bahri yang mendadak tenar akibat fotonya ramai diperbincangkan di twitter, mengaku sejak kecil sudah bercita-cita sebagai polisi. Menurutnya menjadi polisi dan mengenakan seragam lengkap itu membuat dirinya merasa gagah.
Hal itu diungkapkan Bahri saat ditemui di Mapolrestabes Bandung, Jalan Merdeka, Selasa (21/2/2012).
"Cita-cita saya dari kecil emang mau jadi polisi. Soalnya gagah," ujar Bahri yang merupakan orang Subang kelahiran 26 Oktober 1990 itu.
Anak pertama dari 3 bersaudara pasangan H Encas Solihin (46) dan Dedeh Kurniasih (36) ini pun mantap mendaftarkan diri menjadi polisi setelah 6 tahun sebelumnya pesantren di Cirebon dan Al Ma'soem Cilenyi.
"Saya masuk polisi tahun 2009. Sekarang tugas di bagian Dalmas Polrestabes Bandung. Tugasnya ya pengamanan. Misalnya amanin demo," katanya
Bahri yang mengaku hobi main bola dan nyanyi itu terlihat malu-malu dan tegang saat ditemui sejumlah wartawan. Padahal ia mengaku sering juga foto-foto lalu menguploadnya di akun Facebook miliknya.
"Iyah, kadang saya suka foto pakai kamera trus diupload di facebook," tutur malu-malu. Dinas di Bandung, Bahri tinggal di asrama bersama rekan-rekannya yang lain.
Beberapa hari belakangan ini, jagad maya khususnya di microblogging twitter ramai dengan twit seputar polteng alias polisi ganteng. Kehebohan itu bermula dari upload sebuah foto saja.
Adalah akun @ArdyWu yang menjadi pemicu kehebohan itu. Ia meng-upload sebuah foto candid seorang polisi berwajah ganteng disertai tulisan 'siapa yang mau ditangkap sama polisi ini'.
Lalu kemudian saling me-retweet disertai komentar seru pun makin membuat foto polisi ganteng itu makin meluas. Apalagi, penyanyi Sherina yang memiliki followers hampir 3 juta akun itu ikut retweet dengan komentar 'tilang saya sekarang' katanya dengan huruf kapital.
(tya/ern)
Inilah 5 Foto Bripda Saeful Bahri Polisi Ganteng
Kamis, 18 Agustus 2011
Alat Musik Unik dari Papua
Tifa adalah alat musik yang berasal dari maluku dan papua, Tifa mirip seperti gendang cara dimainkan adalah dengan dipukul. Terbuat dari sebatang kayu yang dikosongi atau dihilangi isinya dan pada salah satu sisi ujungnya ditutupi, dan biasanya penutupnya digunakan kulit rusa yang telah dikeringkan untuk menghasilkan suara yang bagus dan indah. bentuknyapun biasanya dibuat dengan ukiran. tiap suku di maluku dan papuamemiliki tifa dengan ciri khas nya masing-masing.
Tifa biasanya dimainkan untuk mengiringi tarian tradisional, seperti Tarian perang, Tarian tradisional asmat,dan Tarian gatsi. rian ini biasanya digunakan pada acara-acara tertentu seperti upacara-upacara adat maupun acara-acara penting lainnya.
Senin, 18 Juli 2011
Konser di Kanada, Cupumanik Siap Bawa Nama Indonesia
Cupumanik (dok.pribadi)
Band yang berdiri pada 25 Oktober 1996 itu mengikuti ajang Planetrox. Sebanyak 15 negara bergabung dalam Planetrox nantinya band-band perwakilan mereka akan tampil dalam Festival Envol et Macadam, Quebec, Kanada pada 30 September 2011.
Setelah dibuka pendaftaran, 30 Mei lalu terpilih 9 band yang akan diaudisi lewat video mereka. Mereka pun mengumpulkan voting untuk menuju final. Cupumanik pun berhasil meraih voting tertinggi. Lima band kemudian tampil di Fame Station, Bandung pada 17 Juli 2011 untuk langsung dipilih mewakili Indonesia.
"Sepanjang kariernya Cupumanik, kita nggak pernah ikut-ikutan festival. Ini inisiatif manajer kami yang diam-diam ngedaftarin. Kita bilang coba-coba ke Kanada kenapa nggak. Sekalian ini juga untuk mengingatkan pecinta musik kalau Cupumanik masih ada," ujar sang bassis Iyak kepada detikhot, Senin (18/7/2011).
Tahun ini untuk pertama kalinya Planetrox akan melibatkan Kanada, Korea, Indonesia, Amerika Serikat, Perancis, Belgia, Inggris, Jerman, Norwegia, Irlandia, Italia, Spanyol, Jepang, Cina, Malaysia, dan beberapa negara Asia lainnya. Festival ini setiap tahunnya dihadiri lebih dari 20 ribu penggemar musik, serta banyak profesional industri musik.
"Awalnya nggak nyangka, kaget banget. Mungkin orang nggak sempat kenal kita, dengan ini jadi kenal. Bukan hanya di Indonesia tapi kita bisa belajar juga di Kanada. Yang jelas kita siap membawa nama Indonesia ke festival internasional itu," tutur Iyak.
Beberapa waktu lalu band yang digawangi Che (vokal), Esky (gitar), Iyak (bass) dan Donny (drum) itu merilis sebuah single bertajuk 'Grunge Harga Mati'. Mereka pun sedang menyiapkan single selanjutnya bertajuk 'Luka Bernegara'.
"Selama dua sampai tiga tahun kita sempat vakum. Tapi akhirnya duduk bareng lagi dan memutuskan untuk bareng lagi. Lebih matang, belajar dari kesalahan sebelumnya," jelas Iyak.
Sebelumnya mereka pernah merilis album perdana self titled pada 18 April 2005. Cupumanik yang sebelumnya bergelut di kancah indie kala itu dilamar label Aquarius. Ternyata kerjasama mereka tak berlanjut dan Cupumanik kembali ke jalur indie.
Jumat, 15 Juli 2011
Dampak Ekonomi Dan Sosial Film Asing Stop Edar di Indonesia
Karena Ditjen Bea Cukai tidak mau memahami/menanggapi seluruh argumen penolakan/keberatan terhadap Bea Masuk Atas Hak Distribusi Film Impor yang diajukan oleh pihak MPA (Motion Picture Association) ataupun Ikatan Perusahaan Film Impor Indonesia (Ikapifi), Bioskop 21, dll, yang mana ketentuan tersebut dianggap tak lazim di negara mana pun di dunia ini, MPA sebagai Asosiasi Produser Film Amerika pun mengambil langkah tegas.
Dengan mempertimbangkan bahwa film bioskop bukan produk olahan pabrik, melainkan karya cipta yang tidak bisa diperjualbelikan, yang merupakan pemberian hak eksploitasi atas hak cipta yang diberikan oleh pemilik film kepada distributor /bioskop, dan penonton hanya membayar tanda masuk untuk bisa menikmatinya dan tidak bisa membawa film sebagai barang.
Dan untuk hasil eksploitasi jasa itu selama ini pemilik film sudah membayar sebesar 15% berupa pajak penghasilan (PPh) kepada negara, maka MPA memutuskan bahwa selama ketentuan bea masuk atas hak distribusi film impor itu diberlakukan, maka seluruh film Amerika Serikat tak akan didistribusikan di seluruh wilayah Indonesia, terhitung sejak hari Kamis, tanggal 17 Februari 2011.
Film-film impor yang baru dan yang ‘barang’-nya sudah masuk, seperti BLACK SWAN, TRUE GRIT dan 127 HOURS, yang sudah membayar bea masuk sesuai ketentuan yang berlaku selama ini, tidak akan ditayangkan di Indonesia.
Sedangkan untuk film-film impor yang sedang tayang, bisa dicabut sewaktu-waktu apabila pihak pemilik film impor menyatakan mencabut hak edarnya di Indonesia. Dan akibat langsung dari dicabutnya Hak Distribusi Film Impor untuk Indonesia itu adalah sebagai berikut:
- Ditjen Bea Cukai/Ditjen Pajak/Pemda/Pemkot/Pemkab akan kehilangan rencana anggaran pendapatan dari film impor sebesar 23,75% atas bea masuk barang, 15% PPh hasil eksploitasi film impor, dan Pemda/Pemkot/Pemkab akan kehilangan 10-15% pajak tontonan sebagai pendapatan asli daerah.
- Bioskop 21 Cineplex dengan sekitar 500 layarnya, sebagai pihak yang diberi hak untuk menayangkan film impor, akan kehilangan pasokan ratusan judul film setiap tahun, sementara film nasional selama baru mampu berproduksi 50-60 judul/tahun.
- Dengan akan merosotnya jumlah penonton film (impor) ke bioskop, maka eksistensi industri bioskop di Indonesia akan terancam.
- Nasib 10 ribu karyawan 21 Cineplex dan keluarganya, akan terancam.
- Penonton film impor
Sumber : http://indocashregister.com/2011/02/19/dampak-ekonomi-dan-sosial-film-asing-stop-edar-di-indonesia/
Kenapa Koruptor Disamakan dengan Tikus?
1. Suka Nyolong
Baik koruptor dan tikus dua-duanya memiliki kesamaan suka nyolong. Bedanya kalo tikus nyolong makanan kamu, sementara kalo koruptor nyolong duit kamu (yang harusnya bisa buat beli makanan juga).Tapi mungkin perbedaan mendasarnya adalah apa yang mendasari mereka nyolong. Tikus nyolong karena memang mereka harus bertahan hidup, sementara koruptor nyolong karena…karena apa ya? Karena serakah sih.
2. Susah Ditangkep
Baik tikus dan koruptor sama-sama susah ditangkep. Mereka sangat gesit dalam hal kabur dan pinter banget sembunyi. Bedanya kalo tikus sembunyi di belakang lemari atau di gorong-gorong, kalo koruptor sembunyinya di luar negeri, pake duit yang dia colong dari kamu. Jadi kalo tikus mau gak mau jadi kotor pas sembunyi, koruptor malah bisa sambil jalan-jalan dan menikmati peradaban pas sembunyi.
3. Hidup Membaur di Masyarakat
Baik tikus dan koruptor sama-sama hidup membaur di antara kita semua dan terkadang sulit untuk menyadari kehadiran mereka. Setelah kamu melihat mereka, kamu baru tahu bahwa ternyata hidup kamu dikelilingi oleh mereka dan kamu memang gak bisa lepas dari mereka. Kamu boleh kesel, pengen memberantas mereka, tapi ternyata mereka sudah menjamur dan jumlahnya jauh lebih banyak dari kamu.
4. Pantesnya Dihukum Mati
Daripada ngeracunin hidup kamu, baik koruptor dan tikus memang pantesnya dihukum mati aja. Bedanya kalo tikus layaknya dihukum mati karena bisa menyebarkan penyakit, sementara kalo koruptor layaknya dihukum mati karena…menyebarkan penyakit juga sih. Sama nyolong duit kamu. Tapi lebih ke karena mereka nyolong duit kamu. Brengsek.
5. Bermuka Busuk
Yah, biasanya keduanya sama-sama bermuka busuk. Kamu kadang-kadang bisa nemu tikus yang lucu sih, tapi lebih sering kamu udah jijik duluan kan liatnya. Sama halnya dengan koruptor lah.
Yah begitulah kira-kira. Semoga membantu kamu dalam mempelajari perkorupsian. Ada yang kurang? Silakan tambahkan pendapat kamu di comment.
Keindahan Pulau Kanawa, Nusa Tenggara Timur
Pulau-pulau kecil, bak mutiara, menjalin Indonesia menjadi negara kepulauan nan indah. Pulau Kanawa di Kepulauan Komodo, Nusatenggara Timur, salah satu dari mutiara itu. Birunya laut yang jernih, indahnya terumbu karang, dan kesunyian yang menenangkan bisa dinikmati dengan biaya relatif murah.
Nama Pulau Kanawa pertama kali saya ketahui saat berada di ruang bagasi Bandara Komodo, Labuanbajo. Flores, Nusatenggara Timur. Beberapa poster yang mempromosikan penginapan di Labuanbajo dan sekitarnya tertempel di tembok. Saya agak bingung untuk memilih, berhubung ini kunjungan pertama di Labuanbajo.
Saat pintu keluar dibuka, serombongan laki-laki langsung masuk berhamburan. Mereka berebut menawarkan prospektus hotel. Hans, salah satu di antaranya, yang fasih berbahasa Inggris, Belanda, dan Jerman, dengan antusias menawarkan Kanawa.
"Hanya Rp 50.000,- per malam termasuk makan pagi, ongkos antar-jemput di Labuanbajo, dan sewa alat snorkel. Hanya 40 menit dari Labuanbajo dengan kapal. Anda tidak akan kecewa, tempat ini benar-benar indah dan tenang," janji Hans meyakinkan.
Berbekal air mineral
Terpukau dengan promosi Hans, saya dan teman dari Jerman, memutuskan ke Kanawa. Hans mengantar kami dengan mobil ke Labuanbajo, sekitar 20 menit dari bandara. Gratis.
Terpukau dengan promosi Hans, saya dan teman dari Jerman, memutuskan ke Kanawa. Hans mengantar kami dengan mobil ke Labuanbajo, sekitar 20 menit dari bandara. Gratis.
Setiba di rumah makan di Labuanbajo, hujan deras turun. Sambil menunggu hujan reda, kami menikmati masakan ikan barakuda. Sayangnya, hujan baru berhenti pukul 14.00 lewat. Akibatnya, kami tertinggal kapal jemputan ke Kanawa yang biasa menjemput tamu pukul 12.00. Cara satu-satunya, menyewa sendiri kapal ke Kanawa dengan biaya Rp 60.000,-.
Kami berbekal air mineral botol cukup banyak, karena di Kanawa air minum mahal. Kapal bergerak meninggalkan Labuanbajo, kota nelayan di barat Flores. Perjalanan melalui laut sehabis hujan menyenangkan. Awan menyisih memberikan jalan bagi sinar matahari. Langit kelabu membuat pantulan air laut tidak menyilaukan mata. Pemandangan sekitar tampak jelas, menunjukkan betapa banyaknya gugus pulau di Kepulauan Komodo. Pulau-pulau kecil tandus itu berbentuk kerucut.
Setelah satu jam berayun-ayun di perairan Kepulauan Komodo, Kanawa mulai tampak di kejauhan. Bukitnya ditumbuhi perdu, rumah panggung kayunya berjajar rapi, demikian pula pohon-pohon rindang yang berbaris teratur. Di bawah lautnya yang jernih dan beralas terumbu karang kami mengintip ikan-ikan berkejaran.
"Stop!" sang kapten berteriak mengagetkan. Rupanya lambung kapal hampir mengenai terumbu karang. Memang, Pulau Kanawa dikeliling hamparan terumbu karang. Saat laut surut, tidak ada kapal dapat merapat di pantainya. Menjelang Pulau Kanawa, sekoci kecil datang menjemput. Sedangkan kapal kami, kembali berlayar ke Labuanbajo.
Kamar mandi tak beratap
Jalan menuju setiap bungalo dibatasi dengan barisan apik cangkang karang bercat putih. Pepohonan rindang meneduhi hamparan pasir putih. Satu-dua di antara batang pohon dipasang hammock untuk bermalas-malasan.
Bungalo itu berupa rumah panggung beralas papan. Hanya ada satu ruang untuk tidur seluas kurang lebih 4 x 4 m berdinding gedek dan beratap genting. Di dalam kamar disediakan sebuah dipan yang dilengkapi kelambu. Sebuah lampu pijar menempel di tembok dekat jendela yang menghadap pantai. Di balkon ada dua kursi yang catnya agak kusam, sebuah meja, serta tali jemuran. Sederhana tapi memadai untuk beristirahat. Terasa tenang, apalagi hanya tiga meter di depan balkon terhampar pantai pasir putih dengan laut biru sebening kaca.
Kamar mandi dan WC terletak di luar, di samping bangunan, sejajar dengan tanah dan tanpa atap. Namun, jangan takut diintip, karena kamar mandi dikelilingi tembok. Untuk mandi disediakan bak penampung air tawar yang dialirkan melalui keran, tapi untuk menyiram WC ada seember air laut. Tampak jelas imbauan menghemat air tawar terpampang di kamar mandi. Tidak heran, karena pengelola Kanawa harus membeli air tawar dari Labuanbajo untuk keperluan memasak dan mandi para tamu.
Menjelang senja, kami menunggu dengan penuh harap tergelincirnya matahari menuju peraduan malam. Sayangnya, awan mengalangi pandangan, memupus harapan itu.
Deru mesin genset mulai terdengar begitu malam datang. Genset memang satu-satunya sumber energi listrik di Kanawa. Untuk penerang, di Kanawa dipakai lampu petromaks yang akan sedikit menghangatkan setiap bungalo yang berpenghuni. Berbeda dengan Kanawa yang sepi kilauan lampu, di kejauhan pulau tetangga, P. Mesah, ramai dengan kelip pendar lampu.
Restoran menjadi tempat sosialisasi di malam hari. Beberapa turis asing asyik mengobrol, main kartu, ataupun minum-minum. Harga hidangan yang ditawarkan restoran bisa dibilang ekonomis. Mengingat sayuran dan bahan makanan harus dibeli di Labuanbajo, bahkan dipesan dari Bali. Seporsi cah kangkung Rp 10.000,- dan satu porsi kari ayam Rp 20.000,-.
Kegiatan malam berakhir, kala angin bertiup makin kencang. Sebagian besar tamu kembali ke penginapan masing-masing, menyisakan sunyi. Yang terdengar, tinggal gemerisik daun-daun diterpa angin.
Jalan menuju setiap bungalo dibatasi dengan barisan apik cangkang karang bercat putih. Pepohonan rindang meneduhi hamparan pasir putih. Satu-dua di antara batang pohon dipasang hammock untuk bermalas-malasan.
Bungalo itu berupa rumah panggung beralas papan. Hanya ada satu ruang untuk tidur seluas kurang lebih 4 x 4 m berdinding gedek dan beratap genting. Di dalam kamar disediakan sebuah dipan yang dilengkapi kelambu. Sebuah lampu pijar menempel di tembok dekat jendela yang menghadap pantai. Di balkon ada dua kursi yang catnya agak kusam, sebuah meja, serta tali jemuran. Sederhana tapi memadai untuk beristirahat. Terasa tenang, apalagi hanya tiga meter di depan balkon terhampar pantai pasir putih dengan laut biru sebening kaca.
Kamar mandi dan WC terletak di luar, di samping bangunan, sejajar dengan tanah dan tanpa atap. Namun, jangan takut diintip, karena kamar mandi dikelilingi tembok. Untuk mandi disediakan bak penampung air tawar yang dialirkan melalui keran, tapi untuk menyiram WC ada seember air laut. Tampak jelas imbauan menghemat air tawar terpampang di kamar mandi. Tidak heran, karena pengelola Kanawa harus membeli air tawar dari Labuanbajo untuk keperluan memasak dan mandi para tamu.
Menjelang senja, kami menunggu dengan penuh harap tergelincirnya matahari menuju peraduan malam. Sayangnya, awan mengalangi pandangan, memupus harapan itu.
Deru mesin genset mulai terdengar begitu malam datang. Genset memang satu-satunya sumber energi listrik di Kanawa. Untuk penerang, di Kanawa dipakai lampu petromaks yang akan sedikit menghangatkan setiap bungalo yang berpenghuni. Berbeda dengan Kanawa yang sepi kilauan lampu, di kejauhan pulau tetangga, P. Mesah, ramai dengan kelip pendar lampu.
Restoran menjadi tempat sosialisasi di malam hari. Beberapa turis asing asyik mengobrol, main kartu, ataupun minum-minum. Harga hidangan yang ditawarkan restoran bisa dibilang ekonomis. Mengingat sayuran dan bahan makanan harus dibeli di Labuanbajo, bahkan dipesan dari Bali. Seporsi cah kangkung Rp 10.000,- dan satu porsi kari ayam Rp 20.000,-.
Kegiatan malam berakhir, kala angin bertiup makin kencang. Sebagian besar tamu kembali ke penginapan masing-masing, menyisakan sunyi. Yang terdengar, tinggal gemerisik daun-daun diterpa angin.
"Akuarium" raksasa
Pagi hari, pemandangan sebelum matahari keluar dari persembunyiannya sungguh mengagumkan. Langit gelap perlahan-lahan beralih kemerahan, menjadi jingga, dan akhirnya terang-benderang. Air pasang semalam meninggalkan tumbuhan makroalga yang menggeletak di sepanjang garis pantai. Petugas bungalo mulai menyapu membersihkan sisa-sisa tumbuhan itu, sambil menyapa para tamu yang baru bangun.
Hanya bagian selatan pulau ini yang dihuni. Bagian utara, yang dipisahkan dengan bukit, adalah pantai dengan terumbu karang yang lebih luas. Nama Kanawa sendiri adalah nama pohon. Entah mengapa, pulau ini disebut demikian.
Haji Idris, pemilik bungalo asal Labuanbajo, membangun resor di Kanawa kira-kira sembilan tahun lalu. Saat tidak ada tamu, penghuni pulau seluas sekitar 3 km2M itu hanya tujuh orang, yakni para petugas resor.
Pukul 09.00 sinar matahari sudah menyengat. Inilah saat terbaik untuk snorkeling sebelum matahari makin tinggi. Setelah sarapan pancake dan teh hangat di restoran, kami mengambil fin (sepatu katak) dan masker, siap ber-snorkeling.
Di tepi pantai dengan mata telanjang sekalipun tampak jelas dasar laut yang berpasir putih serta kawanan ikan-ikan kecil yang berenang bebas. Saat ber-snorkel, rasanya seperti masuk akuarium raksasa.
Pertama kali muncul bintang laut berduri. Makhluk berwarna merah-kuning dengan diameter 20 cm itu bertebaran kira-kira 3 m dari garis pantai. Makin menjauhi pantai, kurang lebih 20 m, terbentang hamparan luas gugus terumbu karang dengan ratusan jenis ikan. Anemon laut, karang Arcopora, kepiting kecil, kerang, dan udang kecil hidup aman tak terusik. Kawanan ikan terumbu karang dengan warna-warni cerah mencolok mata berenang kian-kemari. Sementara kawanan yang lain asyik menyantap alga yang tumbuh di terumbu karang. Bila jeli, terlihat pula ular laut loreng merah hitam menyelinap di antara bebatuan. Pemandangan di "akuarium" raksasa itu memang membetahkan.
Namun, jangan pula berlama-lama di air, mengingat matahari bersinar sangat ganas pada tengah hari. Buktinya, begitu muncul di permukaan, kulit terasa panas. Tak terasa satu jam lebih berlalu untuk menyaksikan keindahan terumbu karang.
Kalaupun tak berminat terjun ke laut, kegiatan lain yang pantang dilewatkan adalah melihat budidaya mutiara, penangkaran hiu, red snapper, dan ikan napoleon di "rumah" Ayung, pengelola bungalo. Ikan-ikan itu dipisahkan satu sama lain dengan jala. Hiu yang ditangkar adalah hiu yang masih muda. Nantinya ikan-ikan itu diekspor ke Hong Kong. Yang dimaksud dengan rumah di sini adalah bangunan panggung di lepas pantai Kanawa, kurang lebih 10 m dari pantai. Di sana, di tengah laut itu, Ayung tinggal bersama keluarganya.
Pagi hari, pemandangan sebelum matahari keluar dari persembunyiannya sungguh mengagumkan. Langit gelap perlahan-lahan beralih kemerahan, menjadi jingga, dan akhirnya terang-benderang. Air pasang semalam meninggalkan tumbuhan makroalga yang menggeletak di sepanjang garis pantai. Petugas bungalo mulai menyapu membersihkan sisa-sisa tumbuhan itu, sambil menyapa para tamu yang baru bangun.
Hanya bagian selatan pulau ini yang dihuni. Bagian utara, yang dipisahkan dengan bukit, adalah pantai dengan terumbu karang yang lebih luas. Nama Kanawa sendiri adalah nama pohon. Entah mengapa, pulau ini disebut demikian.
Haji Idris, pemilik bungalo asal Labuanbajo, membangun resor di Kanawa kira-kira sembilan tahun lalu. Saat tidak ada tamu, penghuni pulau seluas sekitar 3 km2M itu hanya tujuh orang, yakni para petugas resor.
Pukul 09.00 sinar matahari sudah menyengat. Inilah saat terbaik untuk snorkeling sebelum matahari makin tinggi. Setelah sarapan pancake dan teh hangat di restoran, kami mengambil fin (sepatu katak) dan masker, siap ber-snorkeling.
Di tepi pantai dengan mata telanjang sekalipun tampak jelas dasar laut yang berpasir putih serta kawanan ikan-ikan kecil yang berenang bebas. Saat ber-snorkel, rasanya seperti masuk akuarium raksasa.
Pertama kali muncul bintang laut berduri. Makhluk berwarna merah-kuning dengan diameter 20 cm itu bertebaran kira-kira 3 m dari garis pantai. Makin menjauhi pantai, kurang lebih 20 m, terbentang hamparan luas gugus terumbu karang dengan ratusan jenis ikan. Anemon laut, karang Arcopora, kepiting kecil, kerang, dan udang kecil hidup aman tak terusik. Kawanan ikan terumbu karang dengan warna-warni cerah mencolok mata berenang kian-kemari. Sementara kawanan yang lain asyik menyantap alga yang tumbuh di terumbu karang. Bila jeli, terlihat pula ular laut loreng merah hitam menyelinap di antara bebatuan. Pemandangan di "akuarium" raksasa itu memang membetahkan.
Namun, jangan pula berlama-lama di air, mengingat matahari bersinar sangat ganas pada tengah hari. Buktinya, begitu muncul di permukaan, kulit terasa panas. Tak terasa satu jam lebih berlalu untuk menyaksikan keindahan terumbu karang.
Kalaupun tak berminat terjun ke laut, kegiatan lain yang pantang dilewatkan adalah melihat budidaya mutiara, penangkaran hiu, red snapper, dan ikan napoleon di "rumah" Ayung, pengelola bungalo. Ikan-ikan itu dipisahkan satu sama lain dengan jala. Hiu yang ditangkar adalah hiu yang masih muda. Nantinya ikan-ikan itu diekspor ke Hong Kong. Yang dimaksud dengan rumah di sini adalah bangunan panggung di lepas pantai Kanawa, kurang lebih 10 m dari pantai. Di sana, di tengah laut itu, Ayung tinggal bersama keluarganya.
Berpetualang ala Robinson Crusoe
Bila bukan musim libur, menginap di Kanawa seperti menginap di pulau pribadi. Mau berenang, memancing, berjemur sepuasnya, atau bermalas-malasan seharian di bawah ayunan pohon, dijamin tidak akan ada yang mengganggu. Jangan harap hal itu terjadi di musim liburan, karena bungalo penuh tamu.
Letak Kanawa terasing dan jauh dari kebisingan. Hampir tidak ada perahu atau kapal melintasi Kanawa, kecuali kapal antar-jemput tamu. Yang lebih membuat terasing adalah sulitnya alat komunikasi. Radio panggil menjadi satu-satunya alat komunikasi yang menghubungkan Kanawa dengan dunia luar. Dapat dibayangkan sunyinya kehidupan di Kanawa.
Saking sunyinya, di siang hari hanya terdengar kicau burung yang bertengger di bawah pohon kersen ataupun sayup-sayup suara percakapan atau canda petugas bungalo.
Meski suasana sangat santai, damai, dan tenang, jangan dikira Kanawa hanya untuk bermalas-malasan. Dunia petualangan ala Robinson Crusoe siap menantang.
Menurut Ayung, beberapa waktu lalu sepasang turis asal Inggris ingin berkemah di balik bukit. Mereka pun mendaki untuk mencapai dataran di balik bukit dan bermalam di sana di bawah tenda. Esok paginya mereka berenang untuk kembali ke bungalo. Kedengarannya mengasyikkan.
Merasa tertantang, dengan panduan Karim, petugas resor, kami pun mendaki bukit kecil di balik penginapan. Meski tinggi bukit tidak lebih dari 200 m, jangan lupa membawa persediaan air minum karena terik surya cepat mengundang haus. Butuh sedikit perjuangan untuk mendaki bukit yang padat ditumbuhi alang-alang tajam. Tapi, begitu tiba di atas, kepenatan terlupakan. Pemandangan Kanawa dan kepulauan sekitarnya sangat spektakuler.
Tampak jelas perairan warna air laut beralih dari biru muda menjadi biru tua, serta peralihan dari perairan dangkal ke dalam. Dari tempat ini pun kita dapat menikmati matahari terbenam. Nun jauh, terlihat lekuk-lekuk pulau-pulau yang mulai gelap tersapu awan.
Bagi pencinta hidangan laut, Kanawa bagai surga. Dengan memesan sebelumnya, makan malam dengan hidangan seperti cumi-cumi, ikan kakap, red snapper, lobster, ataupun kerang hasil tangkapan siang hari dapat dinikmati dengan harga lumayan murah. Misalkan, 1 kilogram lobster yang sudah diolah harganya Rp 75.000,-.
Memungut bintang laut kala surut
Kami beruntung dapat menikmati bulan purnama di Kanawa. Menjelang sore, saat laut surut. Terbentang daratan dadakan, yang biasanya terendam air laut, sampai kira-kira 10 m dari garis pantai. Namun, lebih dari itu banyak karang tajam mengadang. Bintang laut dan kepiting kecil berserakan di sana-sini. Sementara kapal yang tadinya mengapung di air, kini tampak terpaku kaku di daratan.
Masih saat bulan purnama yang berlangsung tiga malam berturut-turut. Selepas magrib nun di kejauhan tampak barisan lampu berkelap-kelip. Rupanya nelayan penduduk P. Mesah, yang berjarak sekitar 30 menit dengan perahu motor dari Kanawa, tengah menjalankan ritual menangkap ikan. Ritual itu mereka lakukan setiap purnama tiba. Sebuah pemandangan mengasyikkan dari jauh.
Di malam hari langit terasa begitu dekat. Udara bersih membuat kerlip bintang selatan memancar terang. Sepanjang zaman tak kenal bosan debur ombak pelahan menampar bibir pantai. Di Kanawa, sang waktu memang terasa panjang. Malam menunggu siang, siang menunggu malam. Kanawa, memang tempat tepat mencari tenang.
Bila bukan musim libur, menginap di Kanawa seperti menginap di pulau pribadi. Mau berenang, memancing, berjemur sepuasnya, atau bermalas-malasan seharian di bawah ayunan pohon, dijamin tidak akan ada yang mengganggu. Jangan harap hal itu terjadi di musim liburan, karena bungalo penuh tamu.
Letak Kanawa terasing dan jauh dari kebisingan. Hampir tidak ada perahu atau kapal melintasi Kanawa, kecuali kapal antar-jemput tamu. Yang lebih membuat terasing adalah sulitnya alat komunikasi. Radio panggil menjadi satu-satunya alat komunikasi yang menghubungkan Kanawa dengan dunia luar. Dapat dibayangkan sunyinya kehidupan di Kanawa.
Saking sunyinya, di siang hari hanya terdengar kicau burung yang bertengger di bawah pohon kersen ataupun sayup-sayup suara percakapan atau canda petugas bungalo.
Meski suasana sangat santai, damai, dan tenang, jangan dikira Kanawa hanya untuk bermalas-malasan. Dunia petualangan ala Robinson Crusoe siap menantang.
Menurut Ayung, beberapa waktu lalu sepasang turis asal Inggris ingin berkemah di balik bukit. Mereka pun mendaki untuk mencapai dataran di balik bukit dan bermalam di sana di bawah tenda. Esok paginya mereka berenang untuk kembali ke bungalo. Kedengarannya mengasyikkan.
Merasa tertantang, dengan panduan Karim, petugas resor, kami pun mendaki bukit kecil di balik penginapan. Meski tinggi bukit tidak lebih dari 200 m, jangan lupa membawa persediaan air minum karena terik surya cepat mengundang haus. Butuh sedikit perjuangan untuk mendaki bukit yang padat ditumbuhi alang-alang tajam. Tapi, begitu tiba di atas, kepenatan terlupakan. Pemandangan Kanawa dan kepulauan sekitarnya sangat spektakuler.
Tampak jelas perairan warna air laut beralih dari biru muda menjadi biru tua, serta peralihan dari perairan dangkal ke dalam. Dari tempat ini pun kita dapat menikmati matahari terbenam. Nun jauh, terlihat lekuk-lekuk pulau-pulau yang mulai gelap tersapu awan.
Bagi pencinta hidangan laut, Kanawa bagai surga. Dengan memesan sebelumnya, makan malam dengan hidangan seperti cumi-cumi, ikan kakap, red snapper, lobster, ataupun kerang hasil tangkapan siang hari dapat dinikmati dengan harga lumayan murah. Misalkan, 1 kilogram lobster yang sudah diolah harganya Rp 75.000,-.
Memungut bintang laut kala surut
Kami beruntung dapat menikmati bulan purnama di Kanawa. Menjelang sore, saat laut surut. Terbentang daratan dadakan, yang biasanya terendam air laut, sampai kira-kira 10 m dari garis pantai. Namun, lebih dari itu banyak karang tajam mengadang. Bintang laut dan kepiting kecil berserakan di sana-sini. Sementara kapal yang tadinya mengapung di air, kini tampak terpaku kaku di daratan.
Masih saat bulan purnama yang berlangsung tiga malam berturut-turut. Selepas magrib nun di kejauhan tampak barisan lampu berkelap-kelip. Rupanya nelayan penduduk P. Mesah, yang berjarak sekitar 30 menit dengan perahu motor dari Kanawa, tengah menjalankan ritual menangkap ikan. Ritual itu mereka lakukan setiap purnama tiba. Sebuah pemandangan mengasyikkan dari jauh.
Di malam hari langit terasa begitu dekat. Udara bersih membuat kerlip bintang selatan memancar terang. Sepanjang zaman tak kenal bosan debur ombak pelahan menampar bibir pantai. Di Kanawa, sang waktu memang terasa panjang. Malam menunggu siang, siang menunggu malam. Kanawa, memang tempat tepat mencari tenang.
Pengalaman Magis Keluar Tubuh, Nyata Atau Tidak?
Kini, ilmuwan skeptis mengatakan, kejadian semacam ini bukanlah apa-apa melainkan halusinasi yang sangat jelas. Beberapa orang memiliki kecenderungan menglami hal semacam ini.
Peneliti di University of Birmingham mengklaim, pengalaman keluar dari tubuh ini terjadi saat ‘otak sedang tidak stabil’. Alhasil, orang-orang menjadi terdisorienstasi dan kehilangan semua kesadaran mengenai lokasi tubuh mereka.
Jauh dari kata ‘pengalaman spiritual keren,’ kejadian semacam ini merupakan ‘kejadian neurofisiologis asli’. Hasil studi mengklaim, orang yang Lobus Temporalis-nya (bagian otak pengendali ingatan dan pengenalan obyek) menyimpang berpeluang besar ‘mengubah posisi tubuhnya sendiri’.
Trik otak ini bisa menjelaskan mengapa model Miranda Kerr (28) merasa mengalami pengalaman keluar dari tubuh saat melahirkan puteranya, Flynn. Awal pekan ini, Kerr yang menjalin hubungan dengan aktor Orlando Bloom, mengatakan, “Awalnya saya berpikir akan mati di satu titik dan meninggalkan tubuh saya. Saya melihat diri saya sendiri. Rasa sakit yang terjadi begitu kuat”.
Kini, kondisi yang terjadi pada Kerr digolongkan dalam beberapa lingkaran ilmiah sebagai OBEr (out-of-body experience). Pemimpin studi Dr Jason Braithwaite mengatakan, “Kami telah mempelajari 65 mahasiswa psikologi dan menemukan OBEr memiliki beberapa prasangka dalam distorsi tubuh dan transformasi”.
Relawan yang sering mengalami deja vu, merasa anggota tubuhnya bukanlah miliknya atau terkadang merasa tubuhnya bergerak sementara sebenarnya sedang diam lebih mungkin merasakan pengalaman keluar dari tubuh ini.
Hasil studi sebelumnya juga menunjukkan penyebab praktis kejadian ini. Pada April, Profesor Neurology Kevin Nelson di University of Kentucky berpendapat, kondisi semacam ini bisa dikaitkan dengan mimpi yang terganggu.
Professor ini menemukan, mereka yang memiliki pengalaman luar tubuh lebih rentan menderita intrusi rapid eye movement (REM), di mana orang menjadi lumpuh sebelum sepenuhnya tertidur.
Ahli neurosains Swiss Profesor Olaf Blanke mengklaim, pengalaman semacam ini merupakan hasil dari gangguan sementara dalam persepsi yang disebabkan ketika otak menjadi bingung.
Selama satu percobaan, relawan menjadi begitu tenggelam dalam lanskap yang dihasilkan komputer. Relawan diberi pertunjukan virtual realitas untuk menipu otak mereka agar mempercayai sedang memainkan tubuh karakter 3D yang dihasilkan komputer.
Hasil studi Dr Braithwaite dari Behavioural Brain Sciences Centre Birmingham University ini diterbitkan dalam jurnal Elsevier Cortex. [mdr]
Hasil studi Dr Braithwaite dari Behavioural Brain Sciences Centre Birmingham University ini diterbitkan dalam jurnal Elsevier Cortex. [mdr]
sumber :http://teknologi.inilah.com/read/detail/1697232/pengalaman-magis-keluar-tubuh-nyata-atau-tidak
Minggu, 10 Juli 2011
5 Perkumpulan Paling Berbahaya Di Dunia
Keyakinan agama dan tradisi masyarakat dogmatis sering membuat orang menjadi kelompok-kelompok ideologis, menyebabkan mereka untuk mengisolasi dari masyarakat arus utama dan menjadi keyakinan rahasia defensif. Mereka percaya diri untuk menjadi bagian dari beberapa misi suci untuk mengubah dunia dan menghabiskan hidup mereka mengikuti ajaran-ajaran pemimpin mereka. Ini sering menimbulkan masyarakat yang bergerak secara tertutup namun memiliki akar yang tersebar di seluruh bangsa-bangsa. Mereka memiliki undang-undang rahasia mereka dan kegiatan yang sering tersembunyi dari non-anggota. Organisasi-organisasi ini membuat doktrin esoteris hanya diketahui oleh anggota mereka, dan tersembunyi dari masyarakat biasa. Jadi mari kita lihat beberapa perkumpulan rahasia dunia yang terbentuk sejak lama dan sebagian besar masih hidup dan melaksanakan gerakan mereka secara diam-diam.
The Order of Nine Angles

The Order of Nine Angles (Ona) adalah organisasi setan rahasia yang muncul di antara orang-orang dari Inggris Raya pada tahun 1980-an dan 1990-an. Masyarakat ini mengaku menjadi pengikut Setanisme dan menganggapnya sebagai individual yang sangat mengejar untuk menciptakan keunggulan diri sendiri dan kebijaksanaan, dengan menghadapi tantangan dan mengatasi batas-batas fisik dan mental. Saat ini, Ona diatur di sekitar sel-sel rahasia yang dikenal sebagai nexions tradisional dan di dalam suku-suku kata menyeramkan. Tulisan-tulisan Ona yang aneh mempertimbangkan korban manusia sebagai cara untuk menghilangkan kelemahan dan mengklaim bahwa suku-suku jahat adalah bagian penting dari strategi jahat untuk menjalankan misi, cara hidup lebih menyenangkan, dan untuk mengganggu dan akhirnya menaklukkan masyarakat biasa.
Thule Society

Thule Society Jerman. Persaudaraan Kematian Masyarakat yang idenya berpusat pada mencapai Tata Dunia Baru yang sangat aneh dalam istilah sederhana berarti membunuh orang untuk mengurangi populasi. Para anggota masyarakat yang berada di Thule mempraktekkan Seksual Black Magic dan Magic. Pameran Thule Society supranatural rutin diselenggarakan, selama itu mereka berkomunikasi dengan setan-setan yang mati entah orang atau yang hanya muncul sebagai roh yang membimbing mereka. Adolf Hitler juga bergabung dengan masyarakat ini pada tahun 1919 di bawah kepemimpinan Dietrich Eckhart. Eckhart melibatkan Hitler untuk ritual sihir setan yang pada akhirnya membuat Hitler impoten secara seksual yang dianggap sebagai penyebab mengapa Hitler menjadi pembunuh yang begitu sadis.
Freemasonry

Menurut definisi Wikipedia, Freemasonry adalah organisasi persaudaraan bersemangat publik yang telah ada sejak abad ke-17. Kegiatan sentral Freemasonry amal tetap bekerja dalam lokal atau masyarakat yang lebih luas tetapi masyarakat memiliki sejumlah besar kontroversi dan rahasia yang sebenarnya terpendam dalam sejarah panjang. Telah dikatakan bahwa kaum Mason mengklaim bahwa Masonry terbuka untuk salah satu dari setiap iman dan bahwa itu adalah persaudaraan untuk membantu kaum Mason lain. Tapi itu hanya untuk menarik lebih banyak orang kepada masyarakat ini. G simbol yang digunakan dalam tanda-tanda mereka benar-benar diterjemahkan menjadi Masonik gnosis atau generasi dengan Lucifer dan Allah sebagai musuh utama kekristenan. Mason mengambil sumpah agak mematikan sumpah darah untuk setiap derajat hingga 33 derajat. Mereka bersumpah setia kepada Tuhan Masonry dan negara di atas segalanya dan di bawah ancaman hukuman mati, bersumpah tidak akan mengungkapkan rahasia Freemasonry - bahkan tidak kepada istri-istri mereka.
Skull and Bones

The Order of Skull and Bones, sebuah komunitas dari Universitas Yale, awalnya dikenal sebagai Persaudaraan Kematian dan didirikan pada tahun 1832 oleh para mahasiswa. Masyarakat ini dikelilingi oleh teori-teori konspirasi; yang paling populer mungkin adalah ide bahwa pendiri CIA adalah anggota kelompok ini. Tetapi kebenaran lain yang lebih mengejutkan adalah bahwa seperti yang lain, masyarakat menyembunyikan rahasia gelap praktik kejahatan juga. Kegiatan seksual mereka dimasukkan ke dalam praktek-praktek mereka di mana mereka berbaring telanjang dalam peti mati memberitahu mereka rahasia seksual paling dalam dan paling gelapnya, sebagai bagian dari inisiasi mereka. Seperti Ona tujuan utama mereka adalah New World Order. Ron Rosenbaum dalam tulisan-tulisannya juga menunjukkan bahwa Bones dan Bavarian Illuminists berhubungan erat satu sama lain, memberikan bukti seperti 'menghantui foto ruang altar di salah satu loge Masonik di Nuremberg yang terkait erat dengan Illuminism. "Mengejutkan, Presiden Bush adalah seorang ahli dalam Persaudaraan Amerika dari Yale Skull and Bones Society.
Terlepas dari beberapa perkumpulan rahasia yang sangat terkenal sepanjang masa adalah Rosikrusianisme, Ordo Templis Orientis, Hermetik Order of The Golden Dawn, The Knights Templar, Illuminati, Opus Dei dan Biarawan Sion
Assassin dianggap sebagai yang paling menakutkan dari semua masyarakat rahasia yang dibunuh setiap korban terlepas dari penjaga dan personel keamanan. Mereka melakukan pembunuhan kejam terhadap orang-orang ternama dan ditakuti oleh raja-raja, pangeran, para syekh, dan sultan. Sebagian besar anggota awal kelompok rahasia pengikut Nizari cabang Iliyya Isma sekte Muslim Syiah dan berlokasi terutama di Suriah dan Persia. Masyarakat dipimpin oleh Hasan bin Sabbah (1034-1124) yang menciptakan suatu kelompok yang terdiri dari penggemar, yang dikenal sebagai Fedayeen, yang melakukan apa pun yang ia peerintahkan dengan ketaatan buta. Mereka tampil sebagai petani sederhana selama siang hari, tetapi menjadi ganas dan sangat mampu pejuang di dalam kegelapan malam, menyerang korban-korban mereka dalam kegelapan.
sumber :http://terselubung.blogspot.com/2011/07/5-perkumpulan-paling-berbahaya-di-dunia.html


07.41
diariesbook




